Kasih Sayang, Bukan untuk di Komersilkan (Catatan diskusi Perempuan dan Valentine)
Sebelum membaca ini, ada baiknya baca
dulu Sejarah Hari Valentin : Kristenisasi Lupercalia
Seperti hari raya lainnya, pengusaha
pasti melihat peluang bisnis di hari valentin ini. Pekan kedua Februari 2018
ini saya ke mal dan minimarket sih belum terlalu ramai promo dan dekorasi, tapi
di situs belanja online, boneka, coklat, kotak kado sampai alat elektronik kebutuhan
rumah tangga sudah pada diskon spesial. Tapi, menurut data survey tahun
2012-2015an, orang Indonesia hanya 18% yang berbelanja untuk kebutuhan valentin
dengan buget rata-rata 16 dollar (dibawah 200rb rupiah lah kira-kira), terendah
kedua dari seluruh negara yang ada di Asia Pasifik (Konsumerisme Valentine, Cintaku Mahal di Modal).
Saya belum punya informasi data presisi tentang apa saja yang laris manis di Indonesia
pada hari valentin dan berapa kuantitasnya... Tapi coba kita rinci, apa barang
apa saja kira-kira bisa mengekspresikan ‘kasih sayang’? Bunga, coklat atau permen,
boneka, dan barangkali (maaf) kondom. Saya belum dapat data juga mengenai angka
seks bebas di hari valentin di Indonesia, tapi berita-berita himbauan
pemerintah daerah untuk tidak merayakan valentin cukup banyak.
Kita nih, perempuan... Hayoh! Jangan ngarep
ada orang apalagi laki-laki yang ngasih hadiah atau surprise di hari valentin! Kalo
ada yang dapet, jangan baper... Anggap saja itu rejeki sekiranya lebih banyak
manfaat ketimbang mudharatnya untuk diterima. Menurut hadits riwayat Bukhari, jika
kita diberi hadiah hendaklah membalasnya (lebih gampangnya, referensi tentang
hadiah bisa dibaca di 21 Faedah Tentang Hadiah).
Balasnya gausah dengan ‘perasaan yang berbeda’ yah... Saling berkasih sayang antar
muslim itu harus, tapi bukan perasaan yang melalaikan.
Berkasih sayang diantara kita mesti
dilakukan setiap waktu, sampai-sampai ada aturan budi pekerti yang diatur dalam
Qur’an dan hadits... contohnya Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam;
jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, jika dia
mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika dia meminta nasihat kepadamu maka
nasihatilah dia, jika dia bersin dia memuji Allah subhanahu wata’ala maka
bertasymitlah untuknya, jika dia sakit maka jenguklah, dan jika dia mati maka
iringilah jenazahnya. (H.R. Muslim).
Dan adalagi yang paling romantis.. kalo kata kids jaman now mah : cinta
dalam diam, maksudnya dalam doa, menurut hadits riwayat Muslim : Tidak ada seorang hamba pun yang mendoakan
saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata kepadanya,
"Dan bagimu seperti apa yang kamu pinta"
Bagaimana jika kita ingin memberi tahu (istilahnya berdakwah) kepada teman terlebih pada teman yg notabene "pacaran" untuk tidak ikut merayakan hari Valentine, dengan bahasa yang baik dan tidak menyinggung?
Kalo saya, langkah minimal yang akan
saya lakukan adalah sampaikan materi yang kita diskusikan ini ke teman saya
tersebut.. Dikondisikan suasananya pake cara yang bikin cukup enak untuk ngobrol dan diskusi persoalan ini. Mudah-mudahan teman kita bisa memahaminya dan mengambil hikmah.
Bagaimana hukumnya bagi para pedagang yang dengan sengaja menjual barang-barang yang biasa digunakan dan pastinya akan laris di pasaran pada hari valentine. Apakah itu termasuk salah satu bentuk dukungan terhadap adanya perayaan hari valentine? Bagaimana sikap kita jika ditempat kita bekerja mendukung kegiatan tersebut.. apalagi kita disuruh memperjualkan barang-barang yang berkaitan dengan valentine misal coklat, bunga, dsb.
Dalam QS A-Maidah
ayat 2: Janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan melanggar
batasan Allah, barangkali bisa kita artikan bahwa itu haram hukumnya. Minimalnya
jika kita menjual/bekerja ditempat yang menjual barang tersebut, jangan
diniatkan untuk mengambil untung dari perayaan Hari Valentin ini. Niatkan saja
untuk bekerja dan membantu memenuhi kebutuhan orang lillahi ta’ala. Allahu a’lam
bisshawwab.
Postingan kali ini adalah hasil diskusi dalam WhatsApp group Muslimah Transformatif yang dikelola oleh Korwil Korps PII Wati Jawa Timur. Terimakasih kepada Churrotul Mandudah, Marietta, dan teman-teman anggota grup khususnya yang berpartisipasi untuk bertanya (Ayu, Desy, Mia dan Nita)
Comments
Post a Comment